Kasus Korupsi Pengadaan ATK & Barang Cetakan 2017 Di BPKAD Kota Sorong, LP3BH Minta Kajari Makrun Segera Tuntaskan!

Foto dari kiri: Kajari Sorong Makrun dan Pengacara Yan Christian Warinussy {MKD~11/06/24}.

KOTA SORONG, PBD, KABAR DAERAH. Kepala kantor Kejaksaan Negeri Sorong yang baru; Makrun, SH. MH, diminta segera menuntaskan kasus yang ditinggalkan mantan Kajari Sorong sebelumnya.

Yakni kasus Korupsi Pengadaan Alat Tulis Kantor {ATK} dan Pengadaan Barang Cetakan, yang diadakan Tahun 2017 di instansi Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPAK) Kota Sorong, sebesar kurang lebih Rp.5 Milyar.

Demikian keterangan tertulis Yan Christian Warinussy kepada Redaksi Media papua.kabardaerah.com kemarin (10/06).

👉”Sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, saya memberi apresiasi kepada saudara Makrun, SH, MH sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sorong, sejak Kamis (6/6).

Pelantikan Saudara Makrun sebagai Kajari Sorong saat ini, menuai segudang harapan rakyat di Tanah Papua secara umum, dan khususnya di Kabupaten dan Kota Sorong bahkan Provinsi Papua Barat Daya, yaitu terhadap pemenuhan rasa keadilan dalam konteks penegakan hukum.

Begitu banyak harapan rakyat Papua akan hadirnya rasa keadilan dalam penegakan hukum itu sendiri, pada upaya pengungkapan sejumlah kasus besar dalam konteks tindak pidana korupsi.

Salah satunya adalah dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) dalam proyek Pengadaan Alat Tulis Kantor (ATK) dan Barang Cetakan, pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemerintah Kota Sorong Tahun 2017, yang diduga merugikan negara sekitar Rp.5 (lima) Milyar, berdasarkan hasil penghitungan oleh Tim Jaksa Penuntut Umum Kejari Sorong, yang saat itu dipimpin oleh mantan Kepala Sub Seksi (Kasubsi) Penyidikan Seksi Pidana Khusus (Sipidsus) Kejari Sorong Stevy Ayorbaba, SH, MH.

Belakangan ada informasi yang tersirat dari keterangan mantan Walikota Sorong Lamberth Jitmau di depan persidangan perkara Tipikor, Dugaan Suap terhadap pejabat Kantor Badan Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Provinsi Papua Barat, belum lama ini di Pengadilan Negeri/Tipikor Manokwari.

Dalam keterangannya, Jitmau mengatakan kerugian negara dalam kasus ATK Kota Sorong Berjumlah Rp.2,6 Milyar, dan dirinya sudah memerintahkan uang tersebut dikembalikan ke kas negara.

Pengembalian Kerugian Negara tersebut menurut ketentuan Pasal 4 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang “Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi”, adalah tidak menghapus dipidananya pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 dan pasal 3.

Dengan demikian, sebagai Advokat dan Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) Di Tanah Papua serta selaku salah satu pemerhati korupsi, saya mendesak Kajari Sorong Makrun, SH, MH, segera memimpin barisan Jaksa di Kejari Sorong untuk dalam 100 hari kerjanya segera mengajukan surat permintaan laporan hasil penghitungan kerugian negara, dari BPK RI Perwakilan Provinsi Papua Barat.

Segera setelah itu, Kajari Sorong Makrun, SH, MH dan jajarannya dapat menetapkan siapa pihak-pihak pada BPKAD Kota Sorong maupun pejabat dan atau mantan pejabat daerah Kota Sorong, yang dapat dimintai pertanggung jawaban hukumnya, yaitu dengan meningkatkan status pemeriksaan ke tahap penyidikan dan menetapkan tersangkanya.

LP3BH Manokwari akan terus mengawal proses penegakan hukum dalam kasus pengadaan ATK dan Barang Cetakan di BPKAD Kota Sorong tersebut, yang dinilai mencapai Rp.8 Milyar saat Kejari Sorong masih dipimpin saudara Erwin Priyadi Hamonangan Saragih, SH, MH“, Ujar Yan Christian Warinussy meminta Kajari Sorong yang baru untuk menuntaskan kasus tersebut. ✍️📢: Jeffry/Jack.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *