Merajut Harapan Masyarakat Biak Di Tengah Efisiensi Anggaran, Sebuah Tantangan Bagi Pemda Meningkatkan Ekonomi Daerah

Foto insert; Pasar Inpres Biak.

BIAK, PAPUA, KABAR DAERAH. Efisiensi anggaran dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) Tahun 2025, bertujuan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran negara dengan mengoptimalkan pengeluaran demi menghindari pengeluaran yang tidak perlu.

Efisiensi seturut Instruksi Presiden {INPRES} Nomor 1 Tahun 2025 ini, dilakukan melalui pemangkasan anggaran pada beberapa kementerian/lembaga (K/L) dan transfer ke daerah, tentu sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan perputaran uang di daerah.

Tujuannya ialah dalam rangka Meningkatkan efektivitas pengelolaan keuangan negara, mengalokasikan anggaran pada proyek-proyek strategis, dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional.

Sebagaimana diketahui Total efisiensi yang dilakukan mencapai Rp.306,6 triliun, yang terdiri dari penghematan belanja K/L sebesar Rp.256,1 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp.50,5 triliun.

Menyoal efisiensi yang tengah dilakukan pemerintah pusat saat ini, jelas pada hakekatnya mengandung 2 (dua) bagian penting yang perlu diketahui serta dipahami rakyat/masyarakat Indonesia, terutama masyarakat di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua.

• Negatif:
Pemangkasan anggaran secara nasional tentu dapat berdampak pada pelayanan publik, pendidikan, kesehatan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat dan bahkan sangat berdampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat di kabupaten Biak Numfor bahkan di Tanah Papua secara keseluruhan.

• Positif:
Efisiensi anggaran dapat meningkatkan produktivitas nasional, memperkuat stabilitas fiskal, dan meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.

Pertanyaannya akan kah stabilitas ekonomi daerah dapat bertahan atau tidak goyah dan bersaing dengan adanya efisiensi itu?. Ini jelas suatu kemustahilan.

Kurang lebih hampir sebulan sejumlah wartawan dan jurnalis media online nasional melakukan tour liputan dan juga investigasi di Biak, daerah dengan julukan “Negeri Karang Panas” atau dalam bahasa Biak/Byak; “Sup Karui”, awak media turut memantau pergerakan ekonomi di Biak.

2 (Dua) basis penilaian yang menjadi indikator atau parameter menilai lajunya perputaran serta keberhasilan ekonomi di Biak, menyangkut daya beli masyarakat, ialah Pasar Inpres di Kelurahan Waupnor dan Pasar Darfuar yang terpantau ramai di waktu kala sore hari.

IPM (Index Pembangunan Manusia) di kabupaten Biak Numfor meskipun diketahui sedikit mengalami peningkatan sebesar 2,28 % atau tercapai sekitar 74,95 dari tahun sebelumnya dan terurut ketiga yang tertinggi dari daerah lain di provinsi Papua, namun masih menjadi tanda tanya tersendiri menyoal kehidupan ekonomi masyarakat yang berada di kampung-kampung yang tidak sedikit menunjukan keprihatinan hidupnya.

Kehidupan nelayan dengan penghasilan lautnya, sejumlah petani dengan hasil kebun dan pertaniannya, penjual buah pinang sirih dengan pendapatnya yang relatif dimiliki, tidak sedikit keterangan yang dikantongi kalau penghasilan yang diperoleh cuman untuk makan sehari alias untuk bertahan hidup.

Sejumlah pedagang sayur mayur misalnya ketika disuguhkan pertanyaan oleh para kulih tinta, yaitu mengenai keuntungan yang diperoleh setiap harinya, menyampaikan kalau dagangannya yang dikais dari pagi hingga sore hari terkadang tidak laku terjual semuanya, beragam versi pun dikantongi awak media.

Sara salah seorang ibu paruh baya penjual sayur di pasar Darfuar kepada media ini menerangkan, sayurnya kadang tidak laku terjual semuanya oleh karena persaingan dari penjual sayur mayur lainnya yang turut mengais dagangannya.

“Kadang tidak habis semua, ya terpaksa kami simpan atau bawa pulang untuk dimakan, kalau bisa bertahan sampai besok bisa kami jual kembali, tapi kalau sudah layu terpaksa tidak bisa dijual dan makan saja.

Kadang juga habis terjual, tapi lebih sering itu tidak semuanya habis dibeli, tidak seperti dulu entah kenapa”, ungkapnya senada dengan beberapa pedagang pasar yang ditanyai wartawan.

Tini, salah seorang pedagang pakaian di pasar inpres kala ditanyai pun menginfokan hal yang sama kepada papua.kabardaerah.com.

“Kadang seharian pakaian yang kami jual tidak dibeli sama sekali pak. Kadang laku satu dua pasang saja tidak kaya dulu yang masih ramai dan lancar pembeli, membuat kami kadang tidak paham dengan kondisi sekarang yang kami alami ini”, bebernya merasa kesal.

“Sayur dan bumbu yang kami jual dulu tidak sampai malam biasa sudah habis, sekarang jarang sekali habis tempo karena pembeli yang jarang”, sebut Ice (ibu/50an).

Beberapa kaum muda intelektual yang ditanyai di beberapa perkampungan pun memberi reaksi dengan keterangan yang beragam, bahwasanya dampak ekonomi yang ada bermuara pula kepada peningkatan angka pengangguran dan aksi-aksi kriminal yang tak bisa dihindari.

“Penjambretan dan begal yang kini trend di Biak ini salah satu faktor penyebabnya, menurut saya karena kesempatan kerja dan ekonomi yang semakin sulit.

Foto; ERICKSON KBAREK tokoh pemuda kampung Yafdas, Biak.

Pemerintah daerah di era Bupati dan Wakil Bupati yang sekarang harus mencari solusi terbaik untuk meminimalisir kondisi ini, harus ada industri atau perusahaan besar seperti BMJ dan WAPOGA kaya dulu, agar setidaknya bisa menyerap angkatan kerja khususnya anak-anak asli Biak, agar mereka ada kesibukan dan tidak kumpul-kumpul di pasar, terminal, punya pikiran negatif dan bikin hal yang tidak terpuji”, bilang Erick Kbarek.

Dia juga menambahkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diperoleh dari Retribusi tidaklah cukup untuk perbaikan ekonomi masyarakat, jika sektor-sektor rill tidak laju bergerak didukung dengan dihidupkannya Kepariwisataan dan sektor Jasa di kabupaten Biak Numfor.

“Semua sektor harus bergerak bersama, harus hidup termasuk yang menjadi idola di Biak, yaitu pariwisata dan jasa.

Bandar udara Frans Kaisiepo harus dibuka kembali jalur penerbangan internationalnya, rute penerbangan regulernya harus setiap hari ada antar kabupaten di Papua, sehingga mendukung roda perputaran ekonomi di Biak agar bisa maju seperti daerah lain di Pulau Jawa sana”.

Bupati Biak Markus Octovianus Mansnembra, SH. MM dan Wakil Bupati Biak Jimmy Cartens Rumbarar Kapisa, sangat diharapkan mencari formula atau ide terbaik yang visioner melajutumbuhkan ekonomi di daerah yang dipimpinnya.

Harapannya kini Biak harus bersinar kembali peradabannya, ekonominya, pariwisatanya, jasanya, terang Injilnya, karena Tanah Papua, Indonesia dan dunia pun tahu kalau “Orang Biak” sumber daya manusianya terbukti hebat luar biasa, berkualitas, hanya tradisi keangkuhannya juga yang harus dilenyapkan sama sekali, yaitu stigma “Aya Kada, Au Kada, Sko Kada, dan Ikada”.

Merajut Harapan Baru di bawah kepemimpinan 2 (dua) anak asli “Byak” Markus~Jimmy, dukungan doa terus mengalir teruntuk kedua putera terbaik “Sup Karui” itu agar meskipun di tengah efisiensi anggaran yang terjadi, Tuhan turut bekerja memberi hikmat-Nya bagi kedua sosok pemimpin itu untuk membawa daerah ini dan masyarakatnya melihat dan merasakan satu tanda heran ke tanda heran lainnya, menuju kesejahteraan yang menjadi impian bersama.

 

By ✍️📢: Aniz Rumaropen, Beatriks Dimara, Alex Mansoben, Daniel Wamaer, Jack Warpinggon~Jurnalis dan Wartawan Asli Biak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *